• iDieng

    iDieng

    Soon..

  • iDieng

    iDieng

    Soon..

  • iDieng

    iDieng

    Soon..

  • iDieng

    iDieng

    Soon..

  • iDieng

    iDieng

    Soon..

  • iDieng

    iDieng

    Soon..

Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Sumur Jalatunda

Sumur Jalatunda masuk dalam wilayah  Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, sekitar 12 km di sebelah barat lokasi wisata utama Dieng. Seperti kawah dan telaga-telaga lainnya di Dieng, sumur ini juga terbentuk akibat letusan gunung purba ratusan tahun yang lalu. Dengan diameter kurang lebih 90m dengan kedalaman lebih dari 200m, air di dalam Sumur Jalatunda berasal dari air hujan dan sumber mata air yang ada disekitarnya.

Sumur Jalatunda juga memiliki mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Menurut cerita masyarakat, sumur tersebut adalah bekas pijakan kaki sang Bima (Tokoh pewayangan) yang saat itu sedang marah lalu menancapkan kakinya ke tanah sehingga terbentuklah lubang raksasa tersebut.  
Cerita lain mengatakan bahwa dahulu kala di Dieng, hidup seorang Putri yang konon gemar berpakaian serba Putih. Putri ini memuja Siluman Ular Setengah Dewa yang bersemayam di dimensi lain dan Sumur Jalatunda merupakan Penghubung atau Pintu Gerbang menuju Dunia Ular setengah Dewa tersebut.
Ular Setengah Dewa tersebut gemar meminta Tumbal kepada sang Putri. di sumur Jalatunda inilah Korban yang menjadi tumbal sang Putri untuk sang Ular setengah dewa ini ditenggelamkan

Mitos lain seputar Sumur Jalatunda, konon barang siapa yang bisa melempar kerikil dari seberang sumur mencapai seberang yang berlawanan maka cita-cita dan harapannya bisa tercapai atau terkabul. Itulah mengapa jika anda berkunjung ke Sumur Jalatunda, anda akan mendapati penjual batu kerikil dimana para wisatawan bisa membeli batu tersebut untuk mencoba peruntungan melempar batu di Sumur Jalatunda.

Terlepas dari cerita tersebut di atas wisatawan akan di suguhi pemandangan yang indah di sekitar Area Sumur Jalatunda. Fasilitas yang terdapat di objek wisata sumur jalatunda seperti : area parkir kendaraan, toilet, shelter atau gardu pandang, dan pedagang kaki lima.


Read more

Tuk Bima Lukar


Tuk Bima Lukar adalah mata air yang merupakan hulu Kali Serayu. Situs ini berada di sebelah kanan jalan raya sebelum masuk ke kawasan Dataran Tinggi Dieng dari arah Wonosobo.


Sebagai situs purbakala, keberadaan Tuk Bima Lukar juga disertai banyak legenda dan mitos / kepercayaan. Tuk (mata air) Bima Lukar dikisahkan merupakan tempat dimana Pandawa (diwakilkan oleh Bima) dan Kurawa berlomba untuk membuat sungai yang akhirnya dimenangkan oleh Bima. Karena sebelum memulai menggali Bima mendapat wangsit dari dewa supaya menggali tanpa busana(lukar) dan dengan alat vitalnya untuk membuat lubang serta mengaliri sungai dengan air kencingnya. 


Usai membuat sungai tersebut Bima melihat seorang gadis sedang mandi di sungai yang dibuat olehnya, seketika itu Bima berucap “Sira Ayu” (Kamu Cantik), maka nama sungai tersebut kemudian menjadi SERAYU. Sungai ini merupakan sungai dengan aliran terpanjang di daerah Jawa Tengah.
Sedangkan sungai yang di buat oleh kurawa bernama Klawing yang saat ini berada di daerah Purbalingga Jawa Tengah. Menurut legenda, dipercaya bahwa barang siapa yang mencuci muka dengan air dari Tuk Bima Lukar ini maka akan menjadi : awet muda, enteng jodoh, tambah cantik.

Sekarang aliran sungai Serayu yang berasal dari Pegunungan Dieng sudah di kembangkan oleh para pelaku Wisata minat khusus sebagai ajang Wisata Olah Raga Arung Jeram yang berada di daerah Banjarnegara dengan grade-grade  Jeram  yang menantang akan menguji adrenalin bagi pecinta olahraga Rafting .


Foto :
http://www.indonesiakaya.com/kanal/foto_detail/tuk-bima-lukar-sumber-mata-air-sungai-serayu#14754
http://satu-coretan.blogspot.com/2012/04/tuk-bimo-lukar.html


Read more

Gardu Pandang Setieng


Gardu Pandang Setieng berada di pinggir jalan arah Dieng, tepatnya di Desa Setieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Berada di ketinggian kurang lebih 1800 dpl, gardu pandang ini memang bukan merupakan obyek wisata utama, melainkan sebagai tempat peristirahatan bagi wisatawan yang hendak menuju ke kawasan wisata Dieng atau turun ke kota Wonosobo. Akan tetapi, pemandangan indah dan mempesona yang ada disekitarnya sayang sekali jika dilewatkan begitu saja, sehingga banyak wisatawan yang menyempatkan untuk berhenti sejenak di gardu pandang ini.



Di Gardu Pandang ini, jika kondisi cuaca cerah dan tidak berkabut, wisatawan bisa melihat pemandangan luar biasa, lereng dan puncak Gunung Sindoro bisa terlihat dengan jelas. Pemandangan kaldera dan alam pedesaan yang berada dibawahnya, tatanan rumah perkampungan warga dan lahan pertanian yang asri dan elok, semuanya terhampar dengan jelas  di pandangan kita, sungguh luar biasa.



Tak hanya menikmati megahnya gunung dan hamparan perkampungan, gardu pandang ini juga merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menikmati terbitnya mentari pagi dengan cahaya keemasan (golden sunrise) bagi para sunrise hunter.


Foto-foto :
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/08/06/dieng-plateau-nirwana-sunyi-anak-anak-gimbal-476105.html
http://heyyblog.wordpress.com/


Read more

Goa di Dataran Tinggi Dieng

Selain menawarkan keindahan panorama alam telaga dan sekitarnya, di kawasan wisata Telaga Warna dan Telaga Pengilon, juga terdapat beberapa goa alam, batu belik dan batu tulis. Beberapa goa yang ada di kawasan tersebut adalah Goa Semar, GoaJaran dan Goa Sumur.  

Pengunjung dapat dengan mudah mengetahui Gua Semar karena ada arca Semar di depan mulut gua tersebut. Tidak jauh dari Goa Semar ada Goa Sumur, yang di depannya ada arca wanita yang sedang membawa kendi. Banyak orang bertapa di situ dengan tujuan mencari keselamatan. Batu Belik Cundamanik berada di sebelah Gua Jaran.

Sementara Goa Jaran atau Goa Kuda di Dieng mempunyai bentuk yang unik yang seperti kuda. Jika diamati dengan seksama mulut goa persis menyerupai kuda. Selanjutnya, ada Batu Tulis. Di percaya oleh penduduk lokal, barang siapa ingin anaknya bisa lancar membaca dan menulis, bisa ke lokasi ini untuk berdoa.

Disamping gua-gua kecil tersebut, juga terdapat juga kawah. Kawah tersebut adalah kawah Sikendang. Dinamai demikian karena kadang-kadang mengeluarkan bunyi seperti kendang.


Read more

Goa Semar


Goa Semar berada di dalam kawasan wisata Telaga Warna. Dinamai Gua Semar karena penduduk setempat percaya bahwa gua ini dijaga oleh Eyang Semar. Semar adalah salah satu punakawan yang dianggap paling bijaksana.

Pengunjung bisa langsung mengetahui keberadaan gua itu karena ada arca Semar di depannya. Banyak orang bersemedi di gua ini dengan tujuan menginginkan keselamatan. Di antaranya, bahkan banyak yang berstatus pejabat di negeri ini. Konon beberapa pemimpin negeri ini dikatakan pernah mengunjungi Goa Semar dan bersemedi di sini.

Penamaan Goa Semar dikiaskan dari ” Ngguguo Maring Sing Samar ” ( merujuk kepada Tuhan yang Maha Esa ), bahwa manusia hidup di dunia ini selalu  berdampingan dengan makhluk – makhluk astral (gaib), hewan, serta  tumbuhan. Di depan Goa tersebut terdapat sebuah nama ” Eyang Sabdo Jati ” yang artinya untuk mencari kesempurnaan sejati hanya dapat dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Goa Semar dikatakan sebagai goa induk dan menjadi ciri khas bahwa dalam budaya masyarakat Dieng, goa adalah salah satu media alternatif untuk menyampaikan pesan kepada Tuhan.


foto-foto :
http://acupofspirituality.blogspot.com/2013/11/referensi-lokasi-sakral.html
 


Read more

Goa Sumur

Goa Sumur berada tidak jauh dari Goa Semar, wisatawan dapat mengenalinya dengan adanya satu arca wanita yang sedang membawa kendi di depan goa tersebut. Goa ini memang memiliki kolam kecil yang airnya konon bertuah. Banyak yang percaya bahwa air di Gua Sumur ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Adapula yang menggunakannya untuk upacara suci. Umat Hindu dari Bali, misalnya. Mereka menggunakan air gua ini untuk upacara Muspre atau Mabakti.

Goa ini terletak dibawah batu besar, dan untuk memasukinya kita harus turun. Ruang di dalam goa cukup luas sebagai tempat bersemadi bagi orang-orang kejawen/ kebatinan / kepercayaan khusus. Dibawahnya terdapat Sumur dengan  genangan air yang sangat jernih, disebut "Tirta Prawitasari", yang dipercaya sebagai air suci bagi masyarakat Bali, dan dipercaya juga sebagai air yang dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit.

Untuk bersemedi di goa ini, harus dipandu oleh Juru Kunci (Kuncen) Gunung Dieng yaitu Mbah Rusmanto. Karena pintu goa biasanya dikunci untuk menjaga kesuciannya maka untuk masuk kedalam goa perlu minta tolong/izin kepada juru kunci untuk membukanya (sama halnya dengan Goa Semar). Juru kunci tinggal tidak jauh dari area Goa & Telaga Warna.

Foto-foto :
http://www.wijanarko.net/2011/07/goa-semar-goa-sumur-goa-jaran-dan.html


Read more

Goa Jaran

Goa Jaran atau Goa Kuda di Dieng mempunyai bentuk yang unik yang seperti kuda. Jika diamati dengan seksama mulut goa persis menyerupai kuda. Di goa ini pula sejumlah orang pada malam-malam keramat berdatangan untuk mencari wangsit. Jika beruntung, di goa jaran ini sejumlah warga yang bertapa mendapatkan sejumlah alat persenjataan jaman kerajaan mataram seperti keris dan tombak.

Goa Jaran juga disertai mitos. Dikisahkan bahwa dahulu kala, goa tersebut adalah tempat pertapaan Resi Kendaliseto. Suatu saat ketika hujan turun dengan deras, ada seekor kuda yang berteduh di dalamnya. Anehnya ketika kuda itu keluar dari lubang goa keesokan harinya, kuda itu telah berbadan dua alias hamil. Oleh karena itu, dipercaya oleh sebagian masyarakat, bahwa gua ini bisa digunakan untuk semedi bagi para wanita yang sulit mendapatkan keturunan. Tidak seperti Goa Semar dan Goa Sumur, Goa Jaran bisa dimasuki tanpa juru kunci tapi tempatnya sempit sekali, biasanya orang yang bersemedi duduk di pendopo depan mulut goa.


Read more